Contact us now
+6289-774455-70

Nanti Saja Kalau Pensiun..

Suatu saat kelas 6 SD, saya dipanggil Guru Bahasa Indonesia. Beliau meminta saya mewakili sekolah untuk Lomba Baca Puisi. Sebagai anak orang miskin, Ayah saya hanya seorang sopir Bemo, saya sering tak percaya diri. Maka saya tolak.

Oleh: Mochamad Yusuf*

“Jangan saya,” kata saya. “Yang lain.” “Siapa?” Pak Guru memandang. Kita paham, saya yang paling pintar termasuk Bahasa Indonesia. Maka mau tak mau, ya harus saya.

Namun Pak Guru tahu kegundahan saya ini. Maka selain diminta berlatih sendiri di rumah, sepulang sekolah kita berlatih. Mulailah saya berlatih, agar minimal jangan mengecewakan saat tampil nanti.

Akhirnya hari itu tiba. Lomba Baca Puisi sekelurahan. Maka wakil berbagai sekolah, negeri dan swasta, hadir. Sampailah saya harus tampil.

Ternyata saya tampil tak mengecewakan. Bahkan saya juara. Bersama 1 orang lagi, saya berhak mewakili kelurahan menuju sekecamatan.

Saat menghadapi Lomba sekecamatan ini, Pak Guru tak melatih saya lagi. Katanya saya sudah cukup bagus, “Ya berlatih sendiri saja. Seperti saat menghadapi lomba sekelurahan dulu.”

Karena tak berlatih dengan Pak Guru, saya juga tak berlatih di rumah. Saya pikir, saya akan melakukan lagi seperti saat sekelurahan sebelumnya. Jadi ya sama.

Ternyata pikiran saya salah. Tetap perlu latihan. Bahkan harus lebih keras lagi berlatihnya. Apalagi menghadapi wakil kelurahan. Mereka hebat-hebat. Saya langsung minder.

Saat tampil saya grogi berat. Tangan sampai bergetar. Keringat dingin keluar. Saya jadi tak percaya diri. Saya ‘nyungsep’. Performa saya bahkan jauh dibawah saat sekelurahan. Saya kalah total.

Saya menyesal. Kenapa tak berlatih. Kalau Pak Guru tak sempat melatih saya, mungkin saya bisa mengajak teman-teman untuk melihat saya berlatih. Atau guru lain yang bisa melatih saya.

Sesuatu itu perlu dilatih. Dibiasakan. Sehingga biasa, ringan dan tak berat melakukannya.

Seperti juga ke masjid untuk sholat jamaah atau mendalami agama lewat kajian-kajian di masjid. Ini juga perlu dilatih. Dibiasakan. Agar tak berat ke sana.

Seringkali saya ajak teman-teman untuk ke masjid. Jawabannya nanti saja. Saat tak sibuk. Saat sudah pensiun.

Namun saat pensiun, mereka juga tak beranjak ke masjid. Mungkin selama ini tak ke masjid, maka ya berat juga ke sana. Karena memang harus dibiasakan.

Apalagi setelah pensiun mulai sakit-sakitan. Tambah alasan untuk tak ke masjid. Terus karena sakit akhirnya meninggal dunia.

Akhirnya selama hidup tak ke masjid. Tak mau memperdalam agama. Mungkin sudah merasa cukup hasil saat waktu kecil dulu. Kadang melihat hal ini jadi sedih.

Padahal meski hanya datang ke masjid atau kajian, hal itu perlu dilatih. Dijadikan kebiasaan yang rutin. Istiqamah. Kalau tidak, akan berat melakukannya. Meski saat pensiun nanti.

Jadi berpikir, apakah perlu berlatih pula agar saat sakaratul nanti dapat dengan mudah mengucap Laailahaillahu. Meski ringan, bisa jadi ini perlu dilatih selama hidup.

Bagaimana menurut Anda? [TSA, 18/1/2022 pagi]

~~~
*Mochamad Yusuf dapat ditemui di http://enerlife.id

One Comment - Leave a Comment
  • Iyoes Sammutz -

    Pensiun sudah pasti. Termasuk mati. Maka bila kematian itu garis finish, maka langkah terakhir sebelum finih itu penting. Dan itu perlu latihan yang kontinyu jauh-jauh sebelum berlari khususnya dalam lomba.

  • Leave a Reply