Contact us now
+6289-774455-70

Belajar dari Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kemarin putri kami menelpon dari pondoknya. Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi. Dia duduk di kelas 4. Setara kelas 1 SMA kalau di luar Gontor. Memang kami minta untuk mengabarkan secepatnya terkait hal pengumuman diterimanya kegiatan ekstranya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Memang kami tekankan untuk saat di sana, mencari ilmu sebanyaknya. Juga pengalaman, ketrampilan dan teman sebanyaknya. Mumpung masih muda, tenaga masih kuat. Apalagi di tempat yang luar biasa ini. Siswanya dari seluruh Indonesia bahkan negara sekitar. Juga kegiatan ekstranya yang banyak.

Maka di kelas 3 kemarin dia mendaftar ikut kegiatan ekstra Koperasi dan Jurnalistik. Dan ini yang menarik, bahwa tidak langsung diterima tapi ada seleksinya.

Tes pertama, tes tulis. Entah apa yang harus dikerjakan. Lalu menunggu pengumuman. Berikutnya bila lolos, akan wawancara. Di Koperasi, ada tes simulasi jualan ke para senior yang wawancara dan yang ikut tes. Juga dites berapa harga produk di koperasi. Di sini terpaksa dia melepas kesempatan ikut kegiatan esktra Jurnalistik.

Karena saat wawancara di Jurnalistik ditanya oleh seniornya, “Kamu sudah daftar di mana saja? ” Dijawab selain tes Jurnalistik ikut juga Koperasi.

Maka senior bertanya kembali, “Kamu lebih suka mana?”. Maka putri berpikir, mana yang lebih besar harapan diterima. Saat ikut tes Jurnalistik, para pesaingnya banyak dari kelas B. Di Gontor kelas B, tempat para siswa paling pintar.

Maka dengan jujur dia menjawab, “Lebih suka Koperasi.” Padahal di Jurnalistik salah satu tugasnya adalah membuat seperti koran dinding. Ananda sampai lembur mengerjakannya bersama teman-teman lain yang juga ikut tes.

Maka dia fokus di seleksi Koperasi. Tes wawancara lolos. Tes selanjutnya adalah diminta untuk menjual barang-barang koperasi. Dia diberi sekumpulan barang. Cukup beragam barang yang harus dijual. Ada yang mudah dijual, tapi ada yang tidak. Ada sabun, tapi juga ada baju.

Ditarget sehari barang-barang itu semua harus laku terjual. Dan harus mendapat uang minimal sebanyak Rp 200.000. Yang unik, senior tidak memberi daftar harga masing-masing barangnya.

Akhirnya sang putri keliling pondok menjual barang-barangnya itu. Tentu di sela-sela kegiatan sekolahnya.

“Kamu nggak malu?” tanya saya. “Ya, awalnya sih malu,” jawabnya. Diam-diam saya salut keberanian dan usaha untuk menjadi anggota kegiatan ekstra Koperasi ini.

Akhirnya hari itu habis. Dan Alhamdulillah habislah barangnya. Tapi dia kecewa. Uang yang didapat cuma Rp 170.000. Maka dengan lunglai dia menghadap senior bahwa barangnya habis. Tapi targetnya tak terpenuhi. Seniornya bilang untuk menunggu pengumuman diterima tidaknya saat di kelas 4.

Maka saat mau kembali ke pondok, kami minta agar mengabarkan bila diterima tidaknya. Dan, Alhamdulillah dia diterima.

Dan di telpon itu dia bercerita mulai menjaga koperasi dan menjadi kasir. Dia bercerita sempat kebingungan saat harus bayar uang kembalian, tapi dia akhirnya menggunakan kalkulator.

Tentu saja, meski ini hanya pencapaian kecil, kami bangga. Dia mau memanfaatkan masa sekolahnya dengan juga mencari ketrampilan; jualan dan jadi kasir, pengalaman dan teman.

Semoga dengan ikutnya kegiatan ini, dia semakin betah di pondok. Dan meski bertambah kegiatannya, tak sampai membuat nilainya turun. Aamiiin.

~~~
*Mochamad Yusuf dapat ditemui di http://www.enerlife.id

Ket. foto: saya kesulitan mencari foto koperasi yang dimaksudkan putri kami. Koperasi itu katanya ada di dalam pondok. Hanya santri yang bisa mengakses. Foto ini adalah swalayan juga di Gontor Putri 1.

Di Gontor Putri 1 seperti ada 2 pagar. Pagar luar adalah batas Pondok. Lalu pagar dalam. Tamu tak bisa masuk ke pagar dalam. Para tamu masih bisa masuk ke pagar luar. Dan bila ingin bertemu, putrinya akan menemui di antara para luar dan pagar dalam. Swalayan itu posisinya di sini.

Untuk lebih jelasnya bisa lihat video ini:

Leave a Reply

%d bloggers like this: