Contact us now
+6289-774455-70

Tombol yang Hilang

illust_newspaper_01“Kita tinggal push the button.” Kalimat itu diucapkan berulang-ulang oleh seorang CEO sebuah media cetak. Dia ditanya banyak tamu yang kerap berkunjung ke kantor redaksi. Mulai mahasiswa, pejabat, hingga pebisnis. Semua ingin tahu kesiapan koran dengan jaringan terluas di Indonesia itu menghadapi disrupsi digital yang telah menggerus industri media.

Ditanya begitu, mantan pemred termuda itu hanya tersenyum. Menurutnya, industri digital masih belum begitu mengancam bisnis media cetak. Dia lantas memberikan contoh betapa media digital masih belum menjanjikan. Misalnya, porsi iklan masih sangat kecil dibandingkan cetak. “Gak sampai 5 persen,” cetusnya. Kalaupun nanti saatnya tiba, semua infrastruktur sudah siap. Mulai sumber daya manusia hingga jaringan yang sudah tersebar di seluruh penjuru Nusantara. “Kita tinggal tekan tombol,” jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Bisnis digital makin mendisrupsi media cetak. Oplah turun, readership menyusut, iklan anjlok. Yang menjadi kambing hitam selalu tim redaksi. Kontennya disebut buruk. Sudah saatnya penyegaran. Maka susunan redaksi dirombak dan diganti. Konten pun ditambah dan dikurangi. Begitu terus berulang kali. Kondisi tambah runyam dengan mendudukkan orang-orang di kursi pimpinan yang kapasitas dan kapabilitasnya belum teruji. Lengkaplah sudah.

Padahal, masalahnya bukan itu. Bukan konten. Bukan pula persaingan antarmedia cetak. Tapi, perilaku konsumenlah yang berubah. Baik pembaca maupun pemasang iklan. Bagi pembaca, pilihan dalam mengonsumsi informasi makin beragam. Banyak yang gratis pula. Pemasang iklan juga punya banyak pilihan untuk memromosikan produknya dengan lebih murah dan tepat sasaran. Buat apa pasang iklan handphone ratusan juta kalau bayar influencer cuma Rp 15 juta, contohnya. Buat apa pasang iklan baris bertarif ratusan ribu per hari kalau beriklan di online tidak bayar lengkap dengan foto dan diskripsi.

Pernah ada cerita seorang marketing menawarkan iklan ke produsen sepeda motor dengan rate puluhan juta sekali tayang. “Enggak Mas, ngapain saya habiskan Rp 50 juta untuk iklan di koran kalau endorse ke Youtuber cuma Rp 10 juta bisa tayang selamanya. Itu saja saya sudah kewalahan memenuhi permintaan pembeli,” jawabnya.

Dalam sebuah acara yang dihadiri segenap unsur pimpinan, Menteri Pariwisata saat itu Arief Yahya, sudah mengingatkan bahwa sebuah perusahaan harus melakukan adaptasi dan inovasi agar survive. Mantan Dirut Telkom itu lantas mencontohkan beberapa perusahaan yang telah sukses melakukan transformasi bisnis. Salah satunya Telkom sendiri yang kini fokus menggarap bisnis digital setelah melihat prospek telepon rumah mulai suram.

Ada beberapa alert yang mestinya membuat seorang pimpinan perusahaan tergugah. Sinyal paling gampang dibaca adalah soal tren revenue yang yang mulai berubah. Ketika porsi revenue yang terbesar terkoreksi dengan pasti, sudah saatnya perusahaan melakukan evaluasi. “Hati-hati, itu gawat,” ujarnya. Evaluasi dan inovasi bisa berupa shifting model bisnis atau mencari peluang-peluang baru yang berpotensi. Tapi, lagi-lagi warning itu bertepuk sebelah tangan. Malah salah seorang direksi berujar, penerimaan iklan tetap solid. “Perusahaan properti kalau lahannya sudah laku, harus cari lahan lagi. Kalau kita, lahan yang sudah dijual hari ini besok bisa dijual lagi,” sebutnya sedikit jumawa.

Dalam buku seri disrupsi karya Rhenald Kasali, media cetak adalah salah satu sektor yang terhantam keras industri digital. Hantaman jadi lebih terasa telak setelah internet makin cepat dan murah. Perangkat digital juga makin canggih dan terjangkau. Karena itu, iklan dan sirkulasi yang selama ini menjadi tumpuan utama penerimaan media cetak sudah tak bisa jadi andalan lagi. ‘The main is no longer main’. ‘Old power’ harus ditinggalkan diganti dengan ‘new power’. Jika tidak segera melakukan inovasi mencari ‘the new main’, media cetak bakal tinggal kenangan.

Tentu kita ingat banyak dinosaurus bisnis yang punah atau mati suri gara-gara tidak atau telat beradaptasi. Kodak, BlackBerry, Nokia, dll. Apakah sekarang sudah waktunya menekan tombol? Sepertinya sudah terlambat. Bisnis digital sudah berevolusi dan berevolusi dengan sangat cepat. Akankah nasib media cetak ini akan sama layaknya dinosaurus yang menjadi fosil? Kita tunggu. (*)

Leave a Reply

%d bloggers like this: