Contact us now
+6289-774455-70

Mencari Kekhusyukan Shalat yang Hilang

Setiap muslim pasti shalat. Dan dilarang untuk melalaikan shalat. Karena shalat adalah pondasi agama. Dan shalatlah yang akan jadi indikator penilaian kita saat di hari pengadilan kelak. Barangsiapa shalatnya baik, baik juga amalan lain.

Oleh: M. Yusuf*

Namun meski shalat dilakukan tiap hari, apakah sudah benar shalat kita? Apakah ada upaya bagaimana membuat shalat kita menjadi benar? Shalat benar seringkali memunculkan kekhusyukan di hati kita.

Karena itu takmir masjid Shalahuddin Perumahan Puri Surya Jaya mengundang penulis Abu Sangkan untuk memberi pelatihan bagaimana shalat yang khusyuk. Pelatihan dilakukan Minggu tadi, 13 November 2016 mulai pukul 08.00-16.00. Abu Sangkan ini telah menulis buku mega seller “Menemukan Kekhusyukan yang Hilang.”

Saat mendapat informasi pelatihan ini seminggu sebelumnya, tentu saya senang. Apalagi ini gratis langsung praktek. Padahal fasilitasnya tidak kalah dengan seminar yang harganya ratusan ribu sampai jutaan, karena juga disediakan snack, coffee drink dan makan siang.

Tapi saya sempat ragu mau ikut apa tidak. Karena jauh hari sebelumnya saya sudah mendaftar ‘Gerak Jalan Tradisional Mojokerto Suroboyo’ sejauh 55 km yang diadakan malam sebelumnya, Sabtu, 12 November 2016. Karena pastinya esoknya masih capek dan ngantuk. Kepusingan ganda karena di hari Sabtu itu saya juga harus memberikan workshop full seharian. Jadi ya harus pintar bagi waktu dan sumber daya.

Berikut saya tulis poin-poinnya saja hasil mengikuti pelatihan shalat khusyuk. Maaf, saya tidak bisa menuliskan secara runtut. Karena masih mengantuk dan capek setelah gerak jalan Mojokerto Suroboyo.

  1. Saat kita shalat, Allah memperhatikan kita. Itu sesuai dengan Al Qur’an surat 26, “Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat) (218), dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud (219)”.
  2. Anggap shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir, karena setelah shalat kita mati. Abu Sangkan tadi memberi contoh Freddy gembong narkoba yang dihukum mati. Karena bila kita sudah merasakan bahwa ini shalat terakhir, maka akan khusyuk. Sebab ini ibadah terakhir yang bisa dilakukan.
  3. Jadikan shalat seakan berkomunikasi dengan Allah. Seperti juga kita berkomunikasi dengan pasangan kita melalui hp.
  4. Pahami arti bacaan-bacaan shalat. Dengan memahami bacaan yang dibaca akan menikmati pula komunikasi yang dilakukan dengan Allah.
  5. Kekhusyukan intinya ada di pikiran. Kalau dapat mengendalikan pikiran maka dapat memusatkan perhatian pada Allah.
  6. Rasakan otot dan saraf yang menegang saat shalat. Demikian juga rasakan gerakan tulang-tulang. Saat merasakan gerakan mereka, akan membantu memusatkan perhatian pada Allah.

Sepertinya sebagian peserta sudah berhasil menerapkan pelatihan ini. Terbukti saat latihan, seluruh masjid terdengar isak tangis dari peserta. Padahal itu hanya latihan shalat, belum shalat sungguhan. Dan dilakukan di tempat yang terang benderang, yang biasanya di sebuah latihan dikondisikan temaram atau gelap.

Semoga kekhusyukan itu dapat kita temukan. Dan kembali pada shalat kita. Aamiiin.

~~~
*M. Yusuf, www.fb.me/mcd.yusuf
Dapatkan motivasi bisnis, hidup dan Islam di grup wa Enerlife, https://chat.whatsapp.com/LH6nUIaM1Um9DEYRitBU0X

Leave a Reply

%d bloggers like this: