Contact us now
+6289-774455-70

Ini Karena Allah Bukan Karena Kepintaranku

(Ket. foto: ananda siap kembali ke pondok untuk belajar setelah menemui kami walinya. Bukunya tetap dibawa meski tidak pelajaran).

(Ket. foto: ananda siap kembali ke pondok untuk belajar setelah menemui kami walinya. Bukunya tetap dibawa meski tidak pelajaran).

Kemarin (22/8) ananda yang mondok di Gontor Putri 1 (GP1) telpon. Dia bercerita nilainya ada di peringkat bawah dari teman sekelas. Ya, saat ini di Pondok sedang ujian.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Katanya nilai itu di kelas 2, sekarang dia kelas 3, sudah termasuk peringkat atas atau bagus. Ya, memang dia di kelas 3 ini naik urutan kelasnya. Di Gontor urutan kelas berdasarkan prestasi sebelumnya.

Kelas B adalah paling atas. Terdiri dari anak-anak yang nilainya baik di kelas sebelumnya. Dilanjutkan ke bawah kelas C, D dan seterusnya. Kalau di kelas abjad paling belakang berarti prestasinya kurang bagus.

Demikian juga urutan absen di kelas. Urutan nomor 1 paling bagus nilainya. Dilanjutkan urutan nomor 2, 3 dan seterusnya.

Kebijakan ini persis seperti saat saya dulu di sebuah SMP negeri di Surabaya. Maka urutan absen terbawa di segala kegiatan. Misal: pasukan khusus yang ditempatkan di samping kepala sekolah dan guru, berarti di depan semua peserta upacara, siswa urutan 1-5 saja tiap kelas.

Dan punya ciri khas pakai kaos tangan putih. Juga di kaos olahraga ada nomor absennya. Ini yang kadang bikin bangga, karena setelah olahraga tetap dipakai. Padahal yang lain ganti lagi dengan seragam. Hehehe.

Kembali ke telepon anak saya, dia bercerita sudah belajar. “Padahal ada teman yang tidak belajar nilainya lebih bagus, ” katanya. Kami menasihati agar lebih giat belajar.

“Mungkin ibadah saya yang kurang ya?” katanya. Deg! Luar biasa kesimpulan ananda ini. Saya tercenung dalam hati.

Ini paham yang diajarkan di pondok atau kesimpulan menurutnya?

Beberapa tahun ini saya sudah memutuskan berhenti jadi pegawai. Saat pegawai dulu pendapatan jelas tetap lewat gaji. Sebagai bukan pegawai tidak ada gaji. Pendapatan naik turun.

Awalnya dulu kalau pendapatan naik, saya puas dengan kerja keras saya. “Ini pasti strategi marketing saya yang pas. Nggak rugi ikut seminar marketing kemarin,” kata saya dalam hati. Tapi anehnya meski tetap sama strateginya, kadang ya turun pendapatan. Bingung juga.

Terakhir-terakhir setelah merenung, kesimpulan saya mirip dengan kesimpulan ananda. Yakni kalau pendapatan kurang, itu karena ibadah kurang.

Salah satu yang saya lihat terkait dengan Al Qur’an. Saya teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saya punya program ODOP, One Day One Page. Mengajak orang untuk istiqamah membaca Al Qur’an beserta terjemahannya rutin sehalaman saja. Pesertanya dari seluruh dunia.

Pernah banyak peserta mengeluh dengan aturan harus membaca terjemahannya juga. Mereka tidak punya Al Qur’an terjemahan. Juga halaman yang tidak sama dengan admin. Bukan mushaf Utsmani.

Maka saya bikin gerakan wakaf Al Qur’an. Banyak yang wakaf dengan mengirim uang. Saya belikan di toko buku, dikemas dan kirim ke kurir. Capek dan merepotkan.

Tapi saya amati pendapatan saya naik. Bisa gila-gilaan. Padahal kadang saya mengeluh kok repot-repot mengadakan Al Qur’an buat mereka. Padahal saya yakin mereka harusnya bisa beli Al Qur’an sendiri. Ini cuma karena prioritas barang yang dibeli berbeda di mereka, pikir saya.

Saya sih tidak begitu peduli dengan kaitan hal ini. Saya senang sudah bisa membantu banyak orang istiqamah mengaji.

Tapi entahlah.. Yang jelas prinsip saya mirip dengan ananda. Meski tetap usaha duniawi dijalankan: giat belajar, strategi marketing yang jitu dll, tangan Allah itu berperan. Sukses tidaknya Allah yang menentukan.

Bukan semata sukses itu karena kerja keras dan kepintaran kita. Bukan seperti yang diaku pengusaha paling sukses di dunia sepanjang masa yang diabadikan di Al Qur’an:

“Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 78)

Semoga ananda tetap istiqamah menjalankan ibadahnya di pondok. Tapi tetap rajin belajar. Dan semoga kita semua selalu mendapat petunjuk dari Allah agar selalu di jalan yang lurus. Aamiiin.

Bagaimana pendapat Anda?

~~~
*Mochamad Yusuf dapat ditemui di http://www.enerlife.id

(Ket. foto: ananda siap kembali ke pondok untuk belajar setelah menemui kami walinya. Bukunya tetap dibawa meski tidak pelajaran).

One Comment - Leave a Comment
  • Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    %d bloggers like this: