Contact us now
+6289-774455-70

Annapolis – Referensi Orang Tua yang Anaknya Sekolah di Asrama seperti Pondok

annapolisTadi malam nonton film Annapolis. Ini gara-gara saya tidak bisa tidur. Hehehe. Kebetulan saya ingin nonton film ini, tapi belum ada waktu. Saya tertarik menonton ini karena penasaran dengan kehidupan taruna akademi militer negara superpower.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Annapolis ini sebenarnya nama kota. Tapi di kota ini ada US Naval Academy, Akademi Angkatan Laut ya negara Amerika Serikat. Ya seperti Surabaya yang juga ada AAL-nya.

Namun karena Naval Academy sangat populer, maka bila mendengar nama Annapolis asosianya adalah AAL. Ya, seperti mendengar nama West Point lalu teringat US Military Academy. (Ingin juga lihat film taruna West Point kalau ada).

Melihat film ini seperti tidak jauh berbeda dengan keadaan negara kita. Mungkin terasa lebih di sana. Seperti persaingan masuk. Dikatakan di film itu setiap tahun yang daftar ada 50.000 orang. Tapi yang diterima hanya 1.200. Saya tidak tahu di sini, tapi sepertinya tidak sebanyak di sana, karena ini khusus AAL saja.

Kesamaan lainnya orang sekitar ikut bangga. Di film ini sampai diceritakan satu kota membuat perayaan saat seorang warganya mau berangkat ke Annapolis. Bahkan diberi kehormatan kunci kota. Di sini rasanya tidak sampai begitu (yang seperti itu di sini adalah saat jamaah haji mau berangkat, hehehe).

Yang berkesan bagi saya saat menonton film ini, adalah begitu beratnya taruna di sana. Padahal selama ini bayangan saya, dari Youtube yang saya lihat, tidak seketat pendidikan taruna di sini.

Yang menjadi pelajaran bagi saya sebagai orang tua yang punya 2 anak yang sekolah di asrama. Bahwa dukungan keluarga itu penting.

Dalam film ini, sang tokoh sama sekali tidak didukung keluarga. Berangkat tanpa perpisahan. Dan saat yang lain dapat surat, dia tidak dapat (saya dulu kirim surat juga ke anak-anak, tapi mereka tidak mau dikirimi lagi, hehehe).

Akibatnya sang tokoh labil. Prestasinya di bawah sendiri. Selalu dihukum dan dijadikan bulan-bulanan pembinanya. Bahkan dia mau mundur saja. Hanya dukungan teman dan pembinanya yang membuat dia bertahan.

Kesimpulannya di negara Amerika, pembentukan pemimpin penerus lewat pendidikan perwira milternya sangat serius dilakukan. Saya kira di negara lain demikian juga. Termasuk di Indonesia. Semoga.

Bagi orang tua yang sekarang putra-putrinya mencari sekolah kedinasan atau malah sudah sekolah di kedinasan termasuk yang di pondok pesantren, film ini boleh ditonton. Sebagai referensi.

~~~
*Mochamad Yusuf dapat ditemui di http://www.enerlife.id.

One Comment - Leave a Comment
  • Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    %d bloggers like this: