Contact us now
+6289-774455-70

Enerlife [3]: Hati-Hati Memilih Karir

(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Seorang teman sejak kecil memiliki cita-cita sebagai diplomat. Namun tidak seperti anak-anak lain yang terus berubah cita-citanya sejalan waktu berlalu, dia tetap konsisten dengan cita-citanya itu. Tidak sekedar angan atau bermimpi, tapi dia memang mempersiapkan dan mengejar cita-cita itu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Menginjak di sekolah menengah, dia tidak hanya rajin belajar bahasa Inggris, namun bahasa asing lainnya seperti Jerman dan Perancis. Tidak sekedar itu. Dia juga melahap buku-buku sejarah dunia dan perang yang telah melanda dunia. Dia rajin membaca dan mengkoleksi buku-buku.

Dia juga rajin berkorespondensi dengan kedutaan asing yang ada di Indonesia. Karenanya, tak heran, dia banyak mendapat kiriman buku, brosur dan lainnya dari mereka.

Bahkan ketika menginjak bangku kuliah, dia sering berkunjung ke konsulat-konsulat di Surabaya. Bahkan dia sempat mendapat undangan minum teh sore secara pribadi dengan konsul Amerika Serikat di taman belakang konsulat. Luar biasa.

Konsistensi pada cita-citanya tampak pada pemilihan jurusan saat naik kelas 2 SMA. Meski dia termasuk terpintar di kelasnya, dia malah memilih A3. Bukan A1 seperti kebanyakan anak-anak pintar lainnya. Dia tidak peduli anggapan negatif bahwa kelas A3 hanya untuk anak-anak tidak pintar.

Lulus SMA diterima di HI sebuah PTN terkemuka. Cita-citanya semakin dekat. Dan dia semakin rajin belajar. Dan dia akhirnya lulus kuliah dengan nilai baik.

Bila teman-teman seangkatan yang lulus kuliah pada sibuk membuat surat lamaran, dia tidak tertarik. Dia hanya menunggu pembukaan lowongan sebagai diplomat dari Departemen Luar Negeri. Dia tidak berkecil hati, saat melihat temannya satu per satu mulai mendapatkan pekerjaan di perusahaan atau instansi pemerintah.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Departemen Luar Negeri Republik Indonesia membuka kesempatan para pemuda-pemudi menjadi diplomat. Mulailah dia mengikuti seleksi. Satu tahap demi tahap dilalui. Akhirnya dia terima sebagai CAPEG. Dia siap mengikuti pendidikan di Jakarta selama setahun untuk menjadi diplomat, sebelum akhirnya ditempatkan di luar negeri.

~~~

Di sebuah kesempatan saat saya reuni, bertemu teman lama yang dulu sesaat sebelum lulus mengajar privat (memberi les/ngelesi, Jw). Eh, ternyata sampai sekarang juga tetap memberi les. Dulu ada teman yang iseng-iseng belajar kamera karena hadiah ulang tahunnya, dan setelah itu dia menjadi fotografer. Pendidikan kuliahnya tidak 'memberi kesan' pada profesinya. Bertemu dengannya setelah puluhan tahun, dia juga masih fotografer.

Lalu ada teman yang sewaktu KKN menemukan 'desa yang tepat'. Bapak rumah yang ditempati selama KKN, ternyata dianggap 'sebagai orang tua'. Banyak orang datang untuk meminta bantuan. Lha, kok pak Lurahnya juga suka benda-benda 'magis' seperti keris, tombak dan lainnya. Entah sebelumnya sudah memiliki kerteraikan hal itu, dia jadinya selama KKN itu banyak bergaul dengan 'orang tua' dan 'pak lurah' itu. Dia mau menemani mereka untuk mencari benda-benda magis itu ke berbagai tempat. Eh, lama kemudian setelah bertemu ternyata profesinya 'berjualan' benda-benda magis seperti itu.

~~~

Teman, berhati-hatilah sebelum lulus kuliah bergaul dengan siapa. Juga berhati-hatilah saat mencari profesi pertama sesaat lulus kuliah. Bisa jadi orang yang digauli atau profesi pertama itu, menjadi profesi Anda selamanya.

Memang tidak ada salahnya menjadi guru privat. Atau sebagai fotografer. Bahkan menjadi ‘makelar barang-barang magis’. Namun yang lebih penting, jangan sampai berhenti pada karir atau posisi yang sama. Mulai awal sampai puluhan tahun kemudian tetaplah lama.

Harusnya berkembang dan emningkat. TTidak hanya belajar ‘skill’, tapi juga mulai belajar ‘konsep bisnisnya’. Yang dulu fotografer harusnya puluhan tahun kemudian sudah memiliki studio foto. Atau yang dulunya hanya guru privat, sekarang memiliki bimbingan belajar sendiri. Yang ‘makelar benda-benda magis’ menjadi ahli masalah budaya kuno, menulis buku dan menjadi peneliti yang hebat di bidang ini. Dan seterusnya.

~~~

Tapi dari hal itu semua, yang paling baik adalah sejak kecil sudah memiliki cita-cita atau impian. Dan selama hidupnya terus mengejar cita-cita itu. Dia fokus dan tidak tergoda dengan apa-apa yang bisa mengganggu konsentrasinya mencapai cita-cita itu.

Selamat berimpi dan bercita-cita. Dan jangan hanya sekedar menjadi impian. Kejar dan kerjalarlah. Selamat mengejar impian Anda. [PURI, 16/10/2012 siang]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

Leave a Reply