Contact us now
+6289-774455-70

Lemantun | Sebuah Renungan Bagi Anak dan Orang Tua

LemantunHidup itu pilihan. Dan pilihannya kadang sulit. Seperti saat kecil kita bersama dengan ibu dan bapak (keluarga). Saat mulai dewasa, biasanya mulai kuliah, sudah meninggalkan keluarga.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Setelah lulus kadang tidak kembali ke keluarga. Malah jauh ke kota besar untuk cari penghidupan. Bahkan ketemu pasangan akhirnya menetap di sana. Jadinya bertemu keluarga jarang-jarang. Kadang hanya sekali setahun saat lebaran.

Di lain pihak, ibu dan bapak semakin menua. Fisik berkurang. Dan tidak bekerja. Malah sakit-sakitan. Tentu butuh yang merawat. Seperti kita saat masih kecil juga perlu dirawat keluarga.

Kini gantian mereka yang butuh kita. Seperti dulu saat kecil kita butuh mereka. Tapi kita tidak ada di samping mereka.

Saya pernah ke rumah teman di desa. Hanya Bapaknya. Ibunya sudah meninggal. Rumah yang besar itu, 8 bersaudara, tidak ada satu pun yang tinggal di rumah itu. Padahal ya ampun rumahnya besar sekali. Dapurnya saja jadi rumah tersendiri. Setara tipe 45. Ruang makan juga besar setara rumah tipe 36.

Belakang rumah.. wow luas sekali. Rumah utama sudah besar masih bertingkat, karena tadi anaknya ada 8 orang. Ayahnya memang pedagang (sampai sekarang).

Di belakang rumah itu ada gudang dan pabrik untuk mengolah hasil pertanian. Di samping rumah ada toko pertanian menyediakan kebutuhan para petani. Tapi sehari-hari sang Ayah ke pasar karena punya beberapa stan di sana.

Rumah besar berhalaman luas, total mungkin ada 2 hektar yang jadi bagian rumahnya. Di belakang juga tanahnya. Tapi sawah. Hanya didiami sang Ayah. Memang kalau siang ramai karena ada pegawai. Tapi kalau malam sepi..

Saya tidak bisa bayangkan bagaimana suasana hatinya. Anak-anaknya jauh di luar kota. Ada di ibukota provinsi, ibukota negara bahkan luar pulau. Paling bertemu saat lebaran saja.

Seperti keluarga ini saya banyak melihat. Memang contoh di atas adalah ekstrim, karena kaya. Tapi sebagian besar ya sendirian di rumah. Anak-anaknya jauh dari mereka. Mereka tinggal berdua. Kadang sendiri karena ditinggal mati pasangannya.

Namun kalau sang anak tetap tinggal bersama keluarga, kadang tidak bisa berkembang. Sekolah di kota asal masih kalah bagus dibanding kota besar. Pekerjaan yang ditawarkan juga lebih sedikit.

Peribahasa Jawa, ” Kalo ditinggali kere (di kota asal jadi miskin), kalau ditinggal awe-awe (kalau migrasi bikin kangen ingin pulang kampung)..

Bagi orang tua yang mengalami ‘Empty Nest Syndrome’ rumah sepi ditinggal anak, maka yang terbaik mungkin jangan meninggalkan banyak harta. Lebih baik harta diinfakkan saja.

Sisakan sekedar rumah buat tempat tinggal dan bisa buat penghasilan misal dikost/kontrakkan. Toh seringkali anak juga tidak mau menempati rumah itu. Harta tidak perlu dieman (jw, disayang). Lebih baik disedekahkan daripada jadi warisan yang tidak seberapa dibagi.

Seringkali banyak orang menyesal saat sudah meninggal. Ingin kembali hidup di dunia. Bukan ingin sholat kembali atau mau haji kembali, tapi ingin bersedekah.

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.” QS 63:10.

Bagi anak, kadang ‘berkorban’ dengan tinggal bersama orang tua adalah ibadah yang luar biasa. Saatnya membalas budi orang tua selama kita masih kecil dulu. Meski tak akan bisa membalasnya sampai impas.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” QS 31:14.

Meski kadang dengan ‘berkorban’ bersama orang tua hidup tidak bisa sukses. Seringkali malah hanya jadi suruhan saudara-saudaranya. Seperti yang digambarkan film pendek ‘Lemantun’ (saya jadi banyak menonton film pendek setelah kesengsem film pendek yang sedang viral, ‘Tilik’).

Film Lemantun ini banyak mendapat penghargaan. Bisa disaksikan di sini, https://youtu.be/AfchZ4kfFMc

Maka kembali ke kita. Hidup bersama orang tua kadang tak sukses atau mencari kesuksesan di kota besar tapi jauh dari orang tua. Hidup adalah pilihan…

Bagaimana pendapat Anda?

~~~
*Mochamad Yusuf dapat ditemui di http://www.enerlife.id.

One Comment - Leave a Comment
  • Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    %d bloggers like this: