Contact us now
+6289-774455-70

Ikutan Bangga Meski Tidak Santri Gontor

Waktu saya dulu masuk sebuah sekolah negeri paling top di Surabaya, saat opspek para senior bertanya. “Kenapa kamu mau sekolah di sini?” Jawaban kita yang tidak jujur, malah ditertawai mereka.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Ada yang menjawab, “Fasilitasnya lengkap”. Ada jawaban, “Program pengajarannya baik”. Dan lain-lain. Tapi tidak ada yang menjawab dengan jujur, karena top dan favorit sehingga jadi bangga. Juga alumninya sukses menjadi petinggi negeri ini.

Ketika saya membawa putra Sulung saya ke Gontor, saya tercengang pertanyaan itu juga ditanyakan. Bukan senior yang bertanya, tapi Kyainya bertanya. “Apa yang Kau Cari Disini?” Jawaban bisa beragam. Tapi saya yakin salah satu jawabannya seperti saat masuk sekolah favorit itu. Bangga jadi bagian pondok top dan favorit.

Saya ingat waktu masuk kendaraan umum saat sekolah dulu itu. Di sana sudah ada siswa-siswa sekolah lain. Mereka mengobrol tentang pelajaran. Tapi saat tahu dari badge saya siswa sekolah paling pintar, karena persyaratan NEM nya paling tinggi, mereka langsung diam. Sampai saya turun mereka membisu. Mungkin sungkan.

Dalam perjalanannya dengan nama besar, kami siswa sekolah itu mencetak banyak prestasi lokal, regional dan nasional. Padahal nyaris guru tidak berperan. Kami hanya dibantu senior termasuk yang sudah lulus dan bekerja. Tapi kami percaya diri karena kami bangga bagian dari sekolah top itu.

Sayang seragamnya sama dengan sekolah lain. Kalau misal boleh seragam sendiri, kita akan lebih percaya diri. Seperti para taruna sekolah kedinasan yang bangga dan percaya diri mereka bagian dari sekolah top dan favorit dengan seragam coklat-coklatnya. Karena untuk masuknya susah dan lulusannya sudah berkarya untuk negeri ini.

Pondok Gontor tahu hal itu. Maka santrinya diberi identitas yang khas. Pakaian berkerah seperti pekerja profesional di gedung perkantoran Jakarta dengan name tag. Untuk santri putri ada tambahan pin kecil yang menunjukkan sebagai santri Gontor Putri.

Pondok Gontor juga tahu supaya para santri bangga, dibangun gedung-gedung yang megah dengan arsitektur yang khas. Bahkan ikhlas mengeluarkan banyak biaya hanya sekedar membangun Tower masjid.

Bila sudah bangga maka akan percaya diri. Bila sudah percaya diri tidak ada rasa penyesalan atau ‘menoleh ke belakang’. Yang ada berkarya dan berkarya. Untuk mencipta prestasi dan prestasi.

Hari-hari ini saya melihat mereka semakin percaya diri. Pandemi seperti membawa berkah pada Gontor. Kembali ke pondok dikawal polisi, diantar pejabat daerah seperti Bupati, Walikota, Gubernur. Bahkan sampai nyarter pesawat sendiri. Sedikit sekolah yang mampu seperti ini.

Saya yakin mereka bangga. Dan kami yang bukan santri, hanya sekedar wali santri, juga ikutan bangga. Juga keluarga besar kami. Kami bangga bagian dari Gontor.

Ket. foto: Suasana kembali ke pondok Gontor di sebuah mall. Tidak mungkin mall ini jadi seperti terminal kalau bukan Gontor. Hehehe. Di bawahnya mereka yang bangga dan percaya diri sebagai siswa yang top dan favorit itu.

~~~
*Mochamad Yusuf bisa ditemui di www.enerlife.id.

One Comment - Leave a Comment
  • Leave a Reply